buka jam 9.00 s/d 17.00
0852-1861-5119
mhrbabyshop@gmail.com

HIDROPONIK (berkebun dilahan terbatas)

Friday, April 17th 2015.

Pengertian Hodroponik

Hydroponik berasal dari 2 kata yaitu Hydro = air dan ponos = daya ( Wikipedia ) Yunani. Hidroponik adalah cara budidaya tanaman dengan menggunakan media air ber nutrisi sebagai pengganti tanah, hidroponik tidak menggunakan tanah sebagai medianya, Tanah biasa diganti dengan media tanam netral seperti rockwool, sekam bakar, cocopeat, verlite, vermiculite, pasir, kerikil, hidroton dll. Saat ini hidroponik telah berkembang luas di masyarakat baik skala hobi maupun skala produksi.

Budidaya dengan sistem hidroponik telah dikenal dan dikem-bangkan secara komersial pada awal tahun 1900-an di Amerika Serikat (Douglas 1985). Di Indonesia, kultur hidroponik telah mulai mendapat perhatian masyarakat dan berkembang sejak tahun delapan puluhan, yang dimulai oleh beberapa pengusaha di daerah perkotaan.

sistem hidroponik merupakan cara produksi tanaman yang sangat efektif. Sistem ini dikembangkan berdasarkan alasan bahwa jika tanaman diberi kondisi pertumbuhan yang optimal, maka potensi maksimum untuk berproduksi dapat tercapai. Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan sistem perakaran tanaman, di mana pertumbuhan perakaran tanaman yang optimum akan menghasilkan pertumbuhan tunas atau bagian atas yang sangat tinggi. Pada sistem hidroponik, larutan nutrisi yang diberikan mengandung komposisi garam-garam organik yang berimbang untuk menumbuhkan perakaran dengan kondisi lingkungan perakaran yang ideal.

Kelebihan dan Kekurangan Kultur Hidroponik

Beberapa pakar hidroponik mengemukakan beberapa kelebihan dan kekurangan sistem hidroponik dibandingkan dengan pertanian konvensional (Del Rosario dan Santos 1990; Chow 1990).

Kelebihan sistem hidroponik antara lain adalah :

1) penggunaan lahan lebih efisien,

2) tanaman berproduksi tanpa menggunakan tanah,

3) tidak ada resiko untuk penanaman terus menerus sepanjang tahun,

4) kuantitas dan kualitas produksi lebih tinggi dan lebih bersih,

5) penggunaan pupuk dan air lebih efisien,

6) periode tanam lebih pendek, dan

7) pengendalian hama dan penyakit lebih mudah.

Kekurangan sistem hidroponik, antara lain adalah :

1) membutuhkan modal yang besar;

2) pada “Close System” (nutrisi disirkulasi), jika ada tanaman yang terserang patogen maka dalam waktu yang sangat singkat seluruh tanaman akan terkena serangan tersebut; dan

3) pada kultur substrat, kapasitas memegang air media substrat lebih kecil daripada media tanah; sedangkan pada kultur air volume air dan jumlah nutrisi sangat terbatas sehingga akan menyebabkan pelayuan tanaman yang cepat dan stres yang serius.

Sistem hidroponik

Ada 6 tipe dasar sistem hidroponik, system Wick, Water Culture, Ebb dan Flow (Flood & Drain), system Drip ,NFT (Nutrient Film Technique) dan Aeroponik. System dasar ini bisa dimodifikasi sesuia kemauan anda, kreatifitas anda bisa diasah dalam merancang system hidroponik untuk tanaman anda. Ada ratusan variasi pada tipe-tipe dasar dari sistem, tetapi semua metode hidroponik adalah variasi (atau kombinasi) dari keenam system ini.

WICK SYSTEM

hidroponik-wick system-mhrbabyshop

Sistem Wick adalah sistem yang paling sederhana dari ke 6 dasar system hidroponik. Ini adalah sistem pasif, yang berarti tidak ada bagian yang bergerak. Larutan nutrisi ditarik ke dalam media tumbuh dari wadah nutrisi dengan sumbu, biasanya sumbu menggunakan kain flannel atau jenis bahan lain yang mudah menyerap air. Sistem wick biasanya menggunakan media tanam seperti Perlite, Vermiculite, batu kerikil, hydroton, sekam bakar, cocopeat. Kelemahan terbesar dari sistem ini adalah jika tanaman besar dan menggunakan air lebih banyak dari daya serap sumbu.

WATER CULTURE

hidroponik-typical water culture-mhrbabyshop
hidroponik-typical water culture-2-mhrbabyshop
Sistem water culture / rakit apung adalah yang paling sederhana dari semua sistem hidroponik aktif. Platform yang memegang tanaman biasanya terbuat dari styrofoam dan mengapung langsung pada larutan nutrisi. suplai oksigen ke akar tanaman menggunakan pompa aquarium yang dimasukkan ke dalam bak penampung nutrisi hidroponik. Biasanya system rakit apung ini digunakan untuk sayuran jangka pendek seperti lettuce , kangkung dan jenis sawi sawian yang lain. Kelemahan terbesar dari sistem semacam ini adalah bahwa system rakit apung tidak bekerja efektif pada tanaman besar atau pada tanaman jangka panjang.

 

EBB & FLOW – (FLOOD AND DRAIN)

hidroponik-EBB-mhrbabyshop
Sistem hidroponik ini bekerja dengan mengaliri bak dengan nutrisi kemudian dikosongkan kembali mengalir ke bak penampung. Menggunakan pompa aquarium yang disetting waktunya dengan timer. System kerjanya adalah ketika timer menyala maka pompa akan memasukan air ke bak untuk tanaman sedangkan ketika timer mati maka air nutrisi pada bak tanaman akan kembali ke bak penampung nutrisi.

Timer diatur untuk hidup beberapa kali sehari , tergantung pada ukuran dan jenis tanaman , suhu dan kelembaban dan jenis media digunakan . Gunakan media tanam yang mampu menahan air cukup lama, untuk antisipasi jika timer mati karena ada gangguan aliran listrik, supaya akar tanaman masih bisa bertahan dengan sisa air dalam media tanam. Jika media tanam cepat kering sedangkan listrik mati tentu akan bermasalah.

DRIP SYSTEMS/ RECOVERY / NON-RECOVERY

hidroponik-DRIP SYSTEMS-mhrbabyshop
Sistem drip ini adalah system sederhana yang paling banyak digunakan di dunia. Tanaman dialiri nutrisi melalui tetesan di stick drip pada setiap tanaman,aliran nutrisi menggunakan pompa dari bak penampung nutrisi ke setiap tanaman yang diatur menggunakan manifold. Aliran air akan diatur menggunakan timer yang dihubungkan ke pompa. Untuk yang system recovery adalah kelebihan tetesan akan diolah lagi dan dimasukkan dalam bak penampung nutrisi untuk dialirkan ke tanaman lagi, sedangkan system Non-recovery kelebihan tetesan pada drip akan dibiarkan mengalir ke tanah.

N.F.T. (Nutrient Film Technique)

hidroponik-NFT-mhrbabyshop
NFT merupakan system yang biasa dan umum digunakan untuk para hidroponikers. Seperti gambar diatas nutrisi ditampung dalam bak dan dialirkan dengan pompa ke tanaman dengan aliran terus-menerus yang tipis / dangkal melalui akar tanaman. Sistem ini rentan terhadap keringnya akar tanaman jika listrik mati dan pompa tidak bisa mengalirkan air.

AEROPONIC

hidroponik-AEROPONIC-mhrbabyshop
Seperti pada system NFT akar akan menggantung namun nutrisi tidak dialirkan seperti pada NFT namun disemprot kabut menggunakan nozzle. Aeroponik merupakan system hidroponik yang menggunakan teknologi paling tinggi dibandingkan dengan 5 sistem yang sudah dijelaskan diatas. Peralatan terpenting adalah pompa, timer dan juga nozzle. Timer diatur sedemikian rupa akan bisa menyalakan nozzle untuk kebutuhan nutrisi pada tanaman. Karena akar menggantung diudara maka kabut harus cukup untuk membuat akar tercukupi kebutuhannya. Jika nozzle tidak menyala dalam waktu lama, dikawatirkan akar akan mengering.

Selain 6 tipe hidroponik diatas, ada juga teknik gabungan antara menanam secara hidroponik dengan memelihara ikan, Teknik ini disebut Aquaponik.

Aquaponik

hidroponik-AQUAPONIC-mhrbabyshop
Aquaponik terdiri dari dua bagian utama, yakni bagian akuatik (air) untuk pemeliharaan hewan air dan bagian hidroponik untuk menumbuhkan tanaman. Sistem akuatik menghasilkan sisa pakan dan feses yang terakumulasi di dalam air dan bersifat toksis terhadap hewan air, namun kaya nutrien yang dapat menjadi sumber hara bagi tanaman dalam sistem hidroponik di atasnya. Sayuran daun hijau yang paling baik tumbuh dalam system aquaponik antaralain selada, kemangi, tomat, okra, melon dan paprika. Selain itu, spesies lain seperti buncis, kacang polong, kol, selada air, talas, lobak, stroberi, bawang, ubi jalar dan rempah-rempah juga dapat menjadi pilihan tanaman yang bisa ditanam secara aquaponik. Sedangkan jenis ikan air tawar yang paling umum digunakan dalam sistem aquaponik dan paling popular untuk aquaponik skala rumah tangga maupun komersial adalah nila, lele, patin, dan belut.

Media tanam

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, hidroponik merupakan teknologi penanaman dalam larutan nutrisi (air dan pupuk) dengan atau tanpa penggunaan media buatan untuk menopang perakaran tanaman. Media tanam yang biasa digunakan dalam budidaya tanaman secara hidroponik diantaranya: Rockwool, sekam bakar, cocopeat, hydroton, perlite ,vermiculite, pasir , kerikil, hydroton, pecahan bata dll.  rinsipnya adalah media tanam bisa menahan dan menyerap air dengan baik, tidak mengandung bahan cemaran yang mengganggu pertumbuhan tanaman, aman.

Rockwool

Rockwool merupakan salah satu media tanam yang banyak digunakan oleh para petani hidroponik. Media tanam ini mempunyai kelebihan dibandingkan dengan media lainnya terutama dalam hal perbandingan komposisi air dan udara yang dapat disimpan oleh media tanam ini.

Keungulan pemanfaatan rockwool sebagai media tanam yaitu:

Ramah lingkungan

Tidak mengandung patogen penyebab penyakit

Mampu menampung air hingga 14 kali kapasitas tampung tanah

Dapat meminimalkan penggunaan disinfektan

Dapat mengoptimalkan peran pupuk.

Namun karena terbuat dari bebatuan yang biasanya mengandung mineral alkali dan alkali tanah dalam jumlah besar, pH dari rockwool cenderung tinggi bagi beberapa jenis tanaman (antara 7.8 hingga 8.0) sehingga dibutuhkan perlakuan khusus sebelum dijadikan media tanam atau dengan memanfaatkan pupuk yang bersifat asam.

Cocopeat

Serbuk sabut kelapa, terbuat dari sabut kelapa yang diolah menjadi serbuk. Biasanya dicampur dengan sekam bakar sebagai media tanam hidroponik.

Sekam Bakar

Terbuat dari sekam padi yang dibakar menjadi arang sekam atau sekam bakar.

Hidroton

Berupa butiran sebesar kelereng, terbuat dari tanah liat yang dipanaskan pada suhu tinggi.

Nutrisi hidroponik / pupuk hidroponik

Tanaman membutuhkan 16 unsur hara/nutrisi untuk pertumbuhan yang berasal dari udara, air dan pupuk. Unsur-unsur tersebut adalah karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), sulfur (S), kalsium (Ca), besi (Fe), magnesium (Mg), boron (B), mangan (Mn), tembaga (Cu), seng (Zn), molibdenum (Mo) dan khlorin (Cl). Unsur-unsur C, H dan O biasanya disuplai dari udara dan air dalam jumlah yang cukup.

Dalam hidroponik umumnya kita mengenal pupuk A dan B dalam bentuk pekatan. Kedua pekatan atau pupuk tersebut mudah kita temukan atau beli di toko trubus atau bisa kita beli secara online. Kedua pekatan tersebut baru dicampur saat akan digunakan. Pekatan A dan B tidak dapat dicampur karena bila kation Ca dalam pekatan A bertemu dengan anion sulfat dalam pekatan B akan terjadi endapan kalsium sulfat sehingga unsure Ca dan S tidak dapat diserap oleh akar. Begitu pula bila kation Ca dalam pekatan A bertemu dengan anion fosfat dalam pekatan B akan terjadi endapan ferri fosfat sehingga unsur Ca dan Fe tidak dapat diserap oleh akar.

Kunci utama dalam pemberian larutan nutrisi atau pupuk pada sistem hidroponik adalah pengontrolan konduktivitas elektrik atau “electro conductivity” (EC) atau aliran listrik di dalam air dengan menggunakan alat EC meter. EC ini untuk mengetahui cocok tidaknya larutan nutrisi untuk tanaman, karena kualitas larutan nutrisi sangat menentukan keberhasilan produksi, sedangkan kualitas larutan nutrisi atau pupuk tergantung pada konsentrasinya.

Semakin tinggi garam yang terdapat dalam air, semakin tinggi EC-nya. Konsentrasi garam yang tinggi dapat merusak akar tanaman dan mengganggu serapan nutrisi dan air Setiap jenis dan umur tanaman membutuhkan larutan dengan EC yang berbeda-beda. Kebutuhan EC disesuaikan dengan fase pertumbuhan, yaitu ketika tanaman masih kecil, EC yang dibutuhkan juga kecil. Semakin meningkat umur tanaman semakin besar EC-nya. Kebutuhan EC juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca, seperti suhu, kelembaban, dan penguapan. Jika cuaca terlalu panas, sebaiknya digunakan EC rendah.

Selain EC, pH juga merupakan faktor yang penting untuk dikontrol. Formula nutrisi yang berbeda mempunyai pH yang berbeda, karena garam-garam pupuk mempunyai tingkat kemasaman yang berbeda jika dilarutkan dalam air.

limited
Rp 1
new
Rp 80.000
limited
Rp (Hubungi CS)
limited
Rp 1
new
Rp 125.000
new
Rp 79.000